Tulisan ini pernah saya posting di web muhnurulhakim.com versi lama. Sekitar tahun 2017-2018. Saya edit dan posting ulang, namun tetap dengan judul yang sama. Judulnya memang berasa kayak Fabel, ya.. Tapi biarin, ah... Hehee...

Photo by Avel Chuklanov on Unsplash

Ketika jaman sekolah dulu, inget nggak kalo kamu punya temen-temen yang bisa dikategorikan (maaf) sebagai anak bengal? Anak nakal? Inget?

Biasanya setiap orang punya temen yang menurutnya baik dan nakal. Penilaian itu bukan hal yang saklek, karena boleh jadi mereka masih dalam masa labil. Masih mencari jati diri terbaiknya. Bahkan mungkin malah belum tahu jika mereka harus menentukan prinsip hidup sebagai modal hidup di masa depannya. Bisa jadi, kamu dan saya pada saat itu pun juga mengalami kelabilan yang sama.

Membahas hal ini, saya ingat betul bagaimana masa SMA waktu itu. Saya menjalani masa SMA sebagai anak yang pendiam, sebenarnya mendekati kategori penakut dan pemalu.

Asiknya, begitu naik kelas tiga saya masuk jurusan IPS. Jurusan yang dipandang oleh masyarakat sebagai kumpulan anak-anak yang 'spesial'.

Kondisi itu berkebalikan dengan kepribadian saya yang pendiam, penakut dan pemalu. Duar!!! 

Sebuah mimpi buruk seakan datang menyapa saya di kala itu. Mau nggak mau, saya harus berkumpul dengan kawan-kawan yang dianggap spesial tadi. Walaupun pandangan masyarakat tak bisa dipukul rata bahwa semua anak IPS sebegitu spesialnya.

Uniknya, ketika itu saya melihat pelajaran yang berharga. Saya mulai menekuni profesi sebagai pengamat sosial. Saya belajar dari mereka, kawan-kawan saya yang dicap spesial oleh sebagian orang, termasuk bapak-ibu guru. Saya menyadari, ternyata mereka memang benar-benar spesial. Mereka udah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga kepada saya.

Pelajaran berharga apa sajakah itu?

KEBERANIAN 

Saya mulai belajar menjadi seorang anak spesial (baca: nakal). Iya, saya belajar menjadi bengal. Dari sisi itu, saya mulai berani bertanya kepada guru di kelas. Sebelumnya saya memang sangat menghindari bertanya atau sekedar mengutarakan pendapat kepada guru. Mengapa? Karena begitu mau bertanya ke guru, saya langsung gemeteran. Keliatan banget geternya.

Saya amati, temen saya yang bengal ternyata sangat berani dalam beropini, bahkan di depan banyak orang di kelas kecil kala itu. Sedangkan saya, mati kutu. Takut bersuara.

Saya pikir, kalau mereka saja mampu seperti itu, masak iya saya kalah? Masak iya, saya tak mampu bersuara? Jujur, saya tak mau menghabiskan sisa hidup saya dalam kesuraman masa depan. Saya ingin berbenah, saya ingin berubah.

Pertanyaan sederhana tadi berkeliling di dalam benak saya. Meskipun suara saya pun tak sejernih vokalis-vokalis ternama papan atas di Indonesia, tapi saya ingin berani mengemukakan isi kepala saya. Saya ingin berani bersuara, menyatakan pendapat saya.

PERCAYA DIRI 

Selain unsur keberanian, saya juga belajar dari si bengal tentang kepercayaan diri. Mereka yang nakal, saya amati mereka punya kecenderungan rasa percaya diri yang tinggi. Efek sampingnya mereka terlihat sok-sokan.

Orang dengan kadar kepercayaan diri yang oke memiliki pembawaan diri yang oke pula. Alhasil, perilaku atau perkataan yang disampaikan bisa mempengaruhi orang lain. Lepas dari apa yang disampaikan itu benar atau salah, orang dengan kepercayaan diri yang oke ternyata lebih mudah dipercaya orang lain.

Logika sederhananya, ketika kita tidak percaya pada diri sendiri, bagaimana kita bisa dipercayai orang lain?

KREATIFITAS 

Lalu, terkadang keisengan temen bikin saya mikir; 'wah, ternyata temen saya sebegitu kreatif kalo jahilin temen yang lain'. Keusilan mereka sangat bervariasi. Saya belajar tentang unsur kreatifitas di sisi itu, tentang bagaimana si bengal memutar otak dalam menyuguhkan hiburan buat temen-temen sekelas yang lain. Sebenarnya lebih tepatnya si bengal sedang caper.

Belajar menjadi bengal ternyata metode yang lumayan ampuh dalam perubahan hidup saya. Dari si bengal, saya belajar tentang keberanian. Dari si nakal, saya belajar tentang kepercayaan diri. Dari si usil, saya belajar tentang kreatifitas.

Metode ini nggak selalu cocok untuk dilakukan. Bisa jadi kondisi saya dengan kamu berbeda. Jadi, efeknya pun akan berbeda pula. Kamu bisa jadi berubah lebih percaya diri, lebih berani dan lebih kreatif, atau bisa juga kamu makin terjerumus ke dalam lembah kebengalan yang berdampak negatif ke depannya. Jika kondisi ke-2 yang terjadi, lha yo itu mengerikan tho?

Buat yang masih remaja, silakan belajar dari si bengal mengenai 3 hal tadi, namun tetap bertanggungjawab untuk menyaring menu yang si nakal suguhkan di hadapan kamu. Jangan sampai kamu malah terbawa arus hingga menjadi bengal seumur hidup.

Mengutip sebuah kalimat bijak, penyesalan selalu datang di akhir, karena yang datang duluan namanya pendaftaran. Hehehe...

Maka persiapkanlah masa depan sebaik mungkin. Saya ingat petuah Mas Saptuari Sugiharto (Penggagas Gerakan Sedekah Rombongan): 

"Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, setiap saat adalah waktu untuk belajar." 

Tetap berbahagia ya, Gaes!


Ditulis ulang

Wiradesa, 7 Januari 2022