Photo by brother's photo from Pexels

Mensyukuri kehadiran seseorang yang disayang dalam kehidupan, terkadang menjadi sesuatu yang sangat disepelekan.

Mungkin pernyataan tersebut mewakili sebagian orang, mungkin sebagian lainnya tidak merasakan kedalaman kalimat tersebut. Lebih tepatnya belum merasakan.

Seseorang yang pernah ditinggal pujaan hatinya mungkin akan merasakan di antara 2 hal ini: (1) menyesal karena belum melakukan hal terbaik untuk pujaan hatinya selama ia masih hidup; (2) mengenang kebersamaan bersama pujaan hati ketika ia masih hidup.

Jika hal yang dirasa adalah penyesalan, maka jelaslah bahwa seseorang itu menyepelekan kehadiran sang pujaan hati selama berada di sisinya. Kurang atau bahkan tidak mensyukuri keberadaan dirinya. Mungkin yang terburuk malah menyia-nyiakan dengan berbuat kasar terhadapnya.

Namun, ketika seseorang itu memiliki sikap bersyukur dalam hidupnya, maka yang ada hanyalah kenangan-kenangan indah bersama pujaan hati. Setidaknya itu adalah hal yang lebih banyak ia ingat, meskipun mungkin muncul kenangan buruk semacam cekcok kecil bersamanya, namun momen tersebut malah ia rindukan karena artinya ia peduli dengan pujaan hati. Tentu semua setuju, jika rasa syukur yang dimaksud bukanlah bersyukur karena pujaan hatinya telah meninggal lho, ya.. Tapi karena seseorang tersebut telah melewati duka-bahagia hidup bersama pujaan hati.

Memang, ada yang merasakan biasa-biasa saja. Sepeninggal pujaan hati, eh, malah tidak ada penyesalan ataupun rasa syukur untuk mengenang kebersamaan. Bisa jadi di situlah, seseorang tersebut sudah kehilangan hati nurani. Tumpul emosi.

Lalu, ada jenis orang berikutnya yang merasakan rasa penyesalan dan rasa mengenang dalam waktu bersamaan. Bapernya komplit. Seseorang tersebut merasa menyesal belum melakukan yang terbaik karena nggak bisa dipungkiri, kadang keputusan hidup yang diambil tidak selalu membahagiakan pasangan hidup. Namun, ia juga bahagia mengenang masa-masa kebersamaan dengan pasangannya dengan semangat ia akan bersemangat terus hidup untuk dapat terus mengenang sang pasangan.

Entah mengapa tiba-tiba saya pengen nulis tentang tema ini. Saya kangen bapak.

Saya bersyukur, bapak telah merestui keputusanku untuk resign dari kantor di tahun 2016. Berselang dua tahun kemudian, bapak berpulang. Karena restu tersebut, alhamdulillah saya dikaruniai waktu untuk bisa menemani bapak selama di rumah sakit. Menikmati 13 hari terakhir bersama bapak.

Allahummaghfirlahu warkhamhu wa'aafihii wa'fuanhu