Sejak jaman kuliah, kisaran tahun 2009, saya mulai merasakan jalanan Semarang nan puanas bianget. Kurang lebih sekitar 30an lebih berapa derajat gitu. Di tahun ketiga saya berkuliah, saya baru mulai diizinin bawa sepeda motor sendiri.

Photo by Elina Upmane on Unsplash

Saya jadi ingat masa-masa berkeliling Kota Semarang siang hari di kala itu ketika saya ngecek cuaca Kota Pekalongan Ahad 19 Desember kemarin. Memang sungguh terik.


Panasnya matahari ketika jam 11-an siang itu, bikin saya nggak kuat berlama-lama di luar mobil. AC di dalam mobil saja rasa-rasanya kurang dingin.

Kemarin memang saya lagi bareng keluarga di Kota Pekalongan ngurus beberapa hal. Mau nggak mau, ya harus turun dari mobil ketika beresin ini dan itu. Lah itu dia, kerasa puanas banget, Bro! Luar biasa pokoknya!

Kalo suasana sepanas itu, saya jadi inget para pejuang keluarga yang bertebaran di jalanan di kala siang, semacam kurir paket, sales kelilingan menawarkan produk sepanjang hari, pedagang bakso keliling, pedagang buah keliling, tukang bangunan dan lainnya. Mereka terbiasa bertahan di cuaca panas ataupun dingin. Mau nggak mau karena tuntutan profesi.

Justru menurut pendapat orang awam, para penjemput rezeki yang suka panasan di bawah sinar matahari sepanjang hari memiliki ketahanan tubuh yang jauh lebih baik daripada para pekerja yang hanya di dalam ruangan saja.

Menurutmu, gimana, kawan? 

Semoga mereka semua selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh-Nya. Juga rezeki barokah untuk keluarga mereka. Aaamiin...

Ikhtiar menjemput rezeki tidak ada yang mudah. Justru di situlah letak nilai usaha kita di hadapan-Nya.

Wiradesa, 19 Desember 2021