Draft tulisan ini saya bikin pada tanggal 12 Desember di Note.

Ketika senggang dan mutusin: nulis aja sekarang. Nulis apapun itu.

"Tumpahin apa yang lagi kamu pikirkan saat ini," begitu kira-kira kalimat yang muncul di kepala saya.

Yuk mulai...

Gimana cara nyari ide buat nulis?

Saat ini saya malah terkendala buat nulis. Seringnya muncul kondisi begini: ide datang di saat yang malah saya lagi keasikan ngerjain hal lain. Jadi, saya melewatkan ide itu hingga akhirnya menguap gitu aja.

Secara teori saya tahu. Ketika ide bermunculan, ya harus sesegera mungkin saya tuliskan. Ikat ide-ide itu di catatanku. Itu adalah aktifitas yang 7-10 tahun lalu saya lakukan. Sebelum ada platform khusus untuk menyimpan catatan semacam simplenote.com, yang bisa dibuka via aplikasi smartphone atau login via browser PC. Jadi, ilmu sederhana yang saya tahu saat itu cuman mengirim email ke diri sendiri. Tujuannya untuk menyimpan ide-ide yang terlintas.

Saya punya gudang ide di email saya, begitu singkat kisahnya. 

Seiring bertambahnya usia, isi pikiran semakin banyak. Aktifitas rutin menulisku tersebut mulai memuai, hingga akhirnya lenyap begitu saja.

Sekarang saya butuh aktifitas rutin itu lagi. Mau nggak mau nggak ada cara lain selain melakukannya lagi. Iya, kan?

Sebenarnya ketika punya alasan super kuat, maka saya bisa melakukan sebuah hal, hingga menjadi rutinitas. Contoh paling nyata adalah Push Up harian.

Kalo nggak salah ingat, mulai tanggal 2 Desember 2020, saya memulai petualangan 100 Push Up sehari. Sesimpel saya menonton video orang yang kelebihan berat badan di Youtube sedang berusaha menurunkan berat badannya dengan rutinitas 100 Push Up sehari.

Saya inget pelajaran Bro Fahmy Arafat. Yang kurang lebih isinya begini: "mulailah dari hal kecil, karena alam bawah sadar kita nggak mau yang berat-berat. Lakukan sesederhana mungkin hingga kita nggak mungkin nggak melakukannya." Namanya konsep One Thing. 

Maka di hari itu aku memulai komitmen Push Up pertama. Push Up sekali itu cukup. Mikirnya sesimpel itu. Tapi lalu muncul momentum untuk melanjutkan, semacam kayak ada bisikan: "masak cuman satu kali, sih.. Lagi, dong...". Sekali-dua kali-tiga kali seterusnya. Semampu saya.

Dokumentasi video 15 Desember 2020

Konsep One Thing bagi saya: awalnya 'sekali cukup', tapi seiring waktu berkembang menjadi 'semampu saya'. Setidaknya seperti itu pemahaman saya saat tulisan ini saya bikin.

Jika ada yang bertanya teknis, bagaimana cara saya melakukan Push Up 100 kali sehari?

Awalnya saya menargetkan 10 kali Push Up dalam 1 set, maka saya kurangi setengahnya, 5 dulu cukup. Hingga akhirnya saya terbiasa, maka saya tingkatin targetnya dan masih pangkas separuhnya.

Kenapa separuhnya? Karena saya punya pengalaman berusaha memenuhi target yang saya bikin sendiri. Targetnya tinggi. Kayak berusaha menguji diri sampai sejauh mana kemampuan saya saat itu. Masih mikir: "orang lain aja bisa, masak saya enggak bisa, sih...". Alhasil badan saya malah kesakitan. Olahraga bukannya makin seger tapi malah jadi sakit. Kan nggak masuk akal.

Sakit pegelnya bisa berlangsung berhari-hari, pernah juga sampai badan greges seperti kena flu. Nggak nyaman, malah libur olahraga berhari-hari.

Konsep berpikir separuh dari target tersebut masih saya pegang. Tapi, seiring dengan rutinitas Push Up, maka kekuatan saya pun bertumbuh. Bukan lagi melakukan 5 kali Push Up dalam 1 set, melainkan 10 kali Push Up. Bahagia betul bisa meningkatkan kemampuan otot.

Jadi, 100 kali Push Up sehari dibagi 10 set. Itu rutinitas harian saya di awal memulai. Yang penting tujuan 100 kali Push Up dalam sehari tercapai. Bukan sekali Push Up langsung 100 kali, bukan.. Mungkin orang lain mikirnya begitu. Tanggapannya: "Wah, keren kamu...". Padahal nggak sekeren itu. Belum... Hahahahaa..

Tapi konsep One Thing yang berhubungan dengan momentum memang terbukti. Walaupun saya memegang konsep separuh target, tapi seiring waktu saya bisa mencapai target yang saya inginkan.

Contoh: ketika saya menargetkan 20 kali Push Up dalam 1 set, saya tetap berpikir untuk melakukan separuhnya saja, itu cukup. Tapi ketika 10 kali Push Up sudah rutin saya lakukan, saya merasakan masih punya kekuatan untuk melakukannya lagi. Alhasil saya coba 5 kali lagi dalam 1 set tersebut. Dapatlah saya mencapai 25 kali Push Up dalam 1 set tersebut. Lalu istirahat sebentar dalam posisi push up, lebih tepatnya di posisi atas, semoga kebayang, ya.. Di posisi tersebut saya merasakan masih bisa nambah 5 kali nih, ya saya coba lakukan. Jadilah total 30 kali Push Up dalam 1 set.

Jadi, momentum yang terjadi memang benar adanya. Lakukan sekali, lalu mikir masak sekali sih? Akhirnya melakukan dua kali, masak dua kali sih? Lalu jadi tiga kali, dan seterusnya. Setahap demi setahap. Semampunya.

Saya mikir jangan sampai lupa untuk menyisakan tenaga ketika Push Up. Jangan sampai melakukan 1 set tapi kehabisan tenaga. Karena kondisi fisik setiap orang berbeda-beda. Saya akui, kondisi fisik saya begitu lemah ketika memulai rutinitas push up. Bahkan tergolong sering sakit. Jadi, saya perlu berolahraga di bawah standar orang lain. Harus pelan-pelan. Sedikit demi sedikit.

Boleh jadi ada orang yang bisa melakukan 1-10 tapi masih menyisakan tenaga, tapi ada orang yang kehabisan tenaga, bahkan di hitungan 1-5. Itu bukan hal memalukan.

Setiap orang itu unik. Nggak bisa dibandingkan satu orang dengan orang lain. Nggak adil. Karena yang adil adalah membandingkan dirimu versi dulu dengan versi sekarang. Kalo grafik performance-mu menurun, itu baru memalukan. Tapi kalo menanjak, itu baru oke. Dengan catatan menurunnya performance-mu bukan karena kondisi force-major, tapi karena kamu males-malesan nggak mau bertumbuh-kembang. Gitu isi kepala saya.

Tapi memang semua terjadi karena izin Allah, setelah upayamu.

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Begitulah cerita saya hari ini.

Beginilah cara saya mencari ide tulisan. Untuk kali ini berbasis pengalaman pribadi.

Terimakasih sudah membaca sampai akhir.

Wiradesa, 16 Desember 2021