Akhir-akhir banyak orang yang membahas tentang Metaverse. Saya pun tergelitik untuk ikut serta membahasnya. Tulisan ini akan panjang. Bismillah..

Nah, apa itu Metaverse?

Kamu pernah nonton film Ready Player One?

Sumber: Netflix

Nah, kurang lebih Metaverse seperti itu. Kalo film Ready Player One itu berfokus hanya pada game saja, tapi Metaverse yang lagi hangat dibicarakan ini lebih kompleks daripada itu. Simpelnya, kehidupan di dunia digital. Setiap orang bisa menjadi siapapun di Metaverse. Begitu bayangan beberapa orang yang membahas Metaverse.

Sedikit membahas isi film Ready Player One.

Jadi, alkisah di sebuah tempat semua orang memainkan sebuah game dalam kesehariannya. Bahkan menuntaskan misi untuk mendapatkan hadiah. Dengan memasang kacamata VR dan sarung tangan, maka seseorang langsung bisa login ke dunia game. Setiap pemain game bisa menjadi siapapun di dunia game tersebut. Anonim, begitu kira-kira.

Kurang lebih seperti itu yang mau dibawa di Metaverse. Dengan memakai kacamata Virtual Reality, maka penggunanya bisa masuk ke dunia digital. Menciptakan avatar untuk dirinya dengan segala atribut seperti rumah, pakaian, kendaraan dan lainnya, sebagaimana halnya dunia nyata.


Oculus adalah salah satu kacamata VR yang booming di masa sekarang. Founder Oculus bernama Palmer Luckey. Ia seorang pemuda yang doyan bereksperimen dengan teknologi elektronik. Tahun 2014 Mark Zuckerberg terpesona pada potensi Oculus, lalu ngasih 2 miliar dollar kepada Palmer Luckey. Oculus makin terkenal sejak kala itu. Berita selengkapnya bisa kamu baca di okezone.com.

Nah, berbasis dari berbagai konten yang udah saya konsumsi mengenai Metaverse ini, saya ingin mengutarakan opini mengenainya.

Siapkah kita menyambut Metaverse?

Kalo di bayangin memang Metaverse kayak canggih banget. Seseorang bisa masuk ke dunia digital dengan hanya memakai kacamata saja. Ia bisa jalan-jalan, bahkan bekerja di sana. Menghasilkan uang yang tak lagi khawatir terkena macet di jalanan. Bisa kemanapun hanya dari dalam kamar saja.

Tapi apakah benar akan seenak itu?

Gimana dengan sistem keamanan Metaverse?

Sejak ada internet, muncul berbagai kejahatan baru yang ikut beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dugaan kejahatan paling simpel yang masih sering saya temui adalah kiriman SMS yang berisi ucapan selamat karena memenangkan hadiah besar, dan diarahkan untuk menghubungi nomor telpon tertera di SMS tersebut untuk kemudian disuruh transfer sebelum hadiah aslinya dikirim. Padahal hadiahnya sama sekali nggak ada asli-aslinya. Mana ada orang menangin hadiah tertentu kok disuruh transfer uang duluan. Kan, nggak masuk akal.

Berikutnya muncul dugaan penipuan di Telegram. Coba cek screenshot berikut.


Kalo merasa ada kejanggalan, coba cari tahu ke situs resmi Telegram.

Ketemulah info ini:

The Telegram development team is based in Dubai.

Most of the developers behind Telegram originally come from St. Petersburg, the city famous for its unprecedented number of highly skilled engineers. The Telegram team had to leave Russia due to local IT regulations and has tried a number of locations as its base, including Berlin, London and Singapore. We’re currently happy with Dubai, although are ready to relocate again if local regulations change.

Sumber di sini.

Jadi, nggak ada kantor Telegram di Jakarta, ya, Gaes. Kalaupun penipunya mengatakan ia dari kantor Telegram Singapura misalnya, ya coba cari tahu apakah benar Telegram membagikan hadiah dari situs resminya: telegram.org

Mungkin sebagian orang juga bingung, bagaimana cara membedakan mana situs yang benar dan mana situs yang ternyata punya penjahat. Usaha yang bisa dilakukan adalah dengan mencari tahu dari beberapa sumber mengenai sebuah situs. Cari tahu apa kata orang tentang situs tersebut. Kalo banyak yang mengatakan itu situs valid, kemungkinan besar valid beneran.

Oke, kembali ke pembahasan sistem keamanan Metaverse, yuk...

Mungkin bagi sebagian orang, membahas Metaverse terlalu dini. Tapi memang gimana lagi, memang Metaverse belum benar-benar ada. Di Indonesia mungkin baru banyak dipakai dalam kurun waktu 10 tahun lagi. Bukan pesimis ya, tapi berdasarkan pengalaman masuknya teknologi dan kesiapan SDM kita di sini, kemungkinan ya dalam kurun waktu tersebut, menurut saya.

Dalam imajinasi saya, misalnya seseorang yang login ke Metaverse, apakah ada jaminan keamanan atas akun dia?

Coba abaikan istilah jaminan terlebih dulu. Apakah seorang pengguna Metaverse sudah tahu mana info valid dan tidak di dunia tersebut? Khawatirnya, sang pengguna salah memutuskan sesuatu, lalu terjebak dalam perangkap penjahat digital. Misalnya, avatarnya dicuri orang lain, lalu disalahgunakan. Atau ada orang jahat yang meng-cloning avatar seseorang lalu berbuat hal buruk.

Di jaman ini saja, berita tentang pencurian uang di rekening bank masih saja terjadi. Apalagi kalau di Metaverse. Kemungkinan itu tetap menyertai. Tingkat kewaspadaan harus makin ditingkatkan.

Nah, ini saya malah nemu berita tanggal 20 Desember 2021 bersumber di CNN Indonesia.

Percobaan Metaverse Berbuah Aksi Pelecehan Seks Virtual 

Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang wanita salah satu peserta uji coba Beta platform Metaverse laporkan alami pelecehan seksual secara virtual.

Pelecehan seksual yang dimaksud adalah aksi 'meraba' yang dilakukan avatar yang tak ia kenal terhadap avatar dirinya. Baginya hal tersebut adalah hal serius, bukan main-main.

"Pelecehan seksual bukanlah lelucon biasa di Internet," tulis pelapor di forum resmi Horizon Worlds, dilansir dari The Verge.

Ia merupakan salah satu pengguna Horizon Worlds yang dilibatkan dalam uji coba platform Metaverse milik Meta tersebut.

Selain mendapatkan perlakuan buruk, ia juga menyebut tak ada pihak yang coba menghentikan aksi buruk dari avatar lain yang ia temui tersebut.

"Bukan hanya saya yang diraba-raba tadi malam," tulisnya menceritakan insiden yang ia alami.

Berita lain menyebutkan Deretan Kasus Kebocoran Data Pribadi dalam Dua Tahun Terakhir. Berikut kutipan beritanya:

JAKARTA, KOMPAS.com - Regulasi terkait perlindungan data pribadi tak kunjung disahkan oleh pemerintah. Pembahasan Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi atau RUU PDP masih buntu.

Alhasil, kebocoran data pribadi terus terjadi, bahkan diperjualbelikan di dunia maya. Dalam dua tahun terakhir, Litbang Kompas mencatat sejumlah kasus kebocoran data pribadi di Indonesia. Apa saja? 

September 2021 

Beredar Nomor Induk Kependudukan (NIK) para calon presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2019 di media sosial.

NIK para calon presiden dan wakil presiden Pemilu 2019 itu ditampilkan dalam laman infopemilu2.kpu.go.id.

NIK Presiden Joko Widodo dan Wapres Ma’ruf Amin, serta kandidat pesaingnya, yang sekarang menjadi anggota kabinet, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Pariwisata Sandiaga Uno, dengan mudah diakses melalui mesin pencarian di internet. 

Agustus 2021 

Data pengguna e-HAC Kementerian Kesehatan sebanyak 1,3 juta data diduga bocor. Ukuran data tersebut kurang lebih mencapai 2 GB.

Sebuah situs pengulas perangkat lunak VPN, vpnMentor, memublikasikan temuan kebocoran pada bank data (database) e-HAC yang pertama kali diketahui pada 15 Juli 2021.

VpnMentor mengklaim telah berusaha menginformasikan kepada Kemenkes pada 21 dan 26 Juli 2021, tetapi tidak ditanggapi.

Tindak lanjut dan penanggulangan kebocoran data yang dimaksud baru dilakukan sebulan setelahnya, yakni pada 24 Agustus 2021, ketika vpnMentor menginformasikan temuan itu ke Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). 

Juli 2021 

Sebanyak 2 juta data nasabah perusahaan asuransi BRI Life juga diduga bocor, bahkan diperjualbelikan di dunia maya.

Bocornya data nasabah BRI Life pertama kali diungkap oleh akun Twitter @UnderTheBreach pada 27 Juli 2021. Akun tersebut mengatakan bahwa data nasabah yang bocor bersifat sensitif.

Akun tersebut juga mengatakan bahwa sekitar 463.000 dokumen berhasil diambil oleh peretas.

Selain itu, akun tersebut juga menyebut bahwa peretas memiliki video demonstrasi berdurasi 30 menit, yang berisi tentang sejumlah besar data sekitar 250 GB yang mereka peroleh. 

Mei 2021 

Data ratusan juta anggota BPJS Kesehatan diduga diretas dan dijual di forum Raidforums dengan harga sekitar Rp 84 juta. 

April 2021 

Data pribadi sekitar 130.000 penggunan Facebook di Indonesia diduga bocor dan disebarluaskan di sebuah situs peretas amatir. 

September 2020 

Data pribadi sekitar 5,8 juta pengguna aplikasi RedDoorz di Indonesia diduga dijual. 

Agustus 2020 

Data sekitar 890.000 nasabah perusahaan teknologi finansial Kreditplus diduga bocor dan dijual di forum Raidforums. 

Mei 2020 

  • 2,3 juta data pribadi warga Indonesia dari daftar Pemilu 2014 diduga berhasil dipanes dari situs Komisi Pemilihan Umum.
  • Sebanyak 1,2 juta data penggunan Bhineka.com diduga bocor dan diperjualbelikan di Dark Web.
  • Sebanyak 91 juta data pengguna dan 7 juta penjual di Tokopedia diduga bocor pada Mei 2020.

Maret 2019 

Peretas Gnosticplayes mengeklaim menjual 13 juta data akun pengguna dari Bukalapak. Pihal Bukalapak menyatakan peretas gagal menembus sistem keamanan mereka.

Dimanapun tempatnya, orang jahat selalu ada, sebagaimana orang baik. Keduanya memang diciptakan beriringan di dunia ini. Tapi setidaknya kita menguatkan hati bahwa kita bukan salah satu orang jahat tersebut.

Setelah isu keamanan, bagaimana dengan topik kesehatan?

Pertama, coba saya utarakan opini mengenai kesehatan fisik.

Ruang lingkup fisik untuk masuk ke Metaverse bisa sangat hemat tempat. Cukup ngendon di kamar saja. Tapi gimana dengan sinar matahari? Kalo terlalu lama menyatu di Metaverse, tentu waktu yang dihabiskan hanya di dalam kamar saja, yang artinya kurang mendapat sinar matahari langsung. Lama-kelamaan tentu mengakibatkan efek samping untuk tubuh pengguna Metaverse.

Mengenai topik kesehatan, saya nemu artikel di sonora.id yang membahas fakta menarik yang dirangkum dari berbagai sumber. Berikut kutipannya:

Terdapat beberapa fakta menarik dari Metaverse ini. Dilansir dan dirangkum dari berbagai sumber, berikut 6 fakta unik Metaverse!

1. Apa itu Metaverse? 

Metaverse adalah dunia virtual, sebuah konsep untuk versi 3d dari dunia yang coba diciptakan.

Di dunia ini, orang-orang akan berinteraksi satu sama lain melalui avatar yang dibuat atau animasi diri mereka sendiri di dunia maya.

Dunia maya akan sangat mirip dengan dunia nyata yang sedang kita tinggali saat ini.

Metaverse ini hampir setara dengan internet masa depan.

2. Pandangan Mark Zuckerberg 

Pendiri Facebook ini percaya bahwa Metaverse akan menjadi masa depan internet dan bagaimana orang dapat terhubung satu sama lain.

Di Metaverse, seseorang dapat memindahkan avatarnya ke tempat mana pun yang ada di dunia.

Mark percaya bahwa Metaverse akan mengubah hidup seseorang dan bagaimana ia melakukan sesuatu, baik ketika itu berkaitan dengan pekerjaan, sosial, pendidikan, atau aspek lainnya.

Di satu sisi, Mark mengakui kalau proyek ini masih jauh dari kata sempurna sehingga akan memakan waktu lima sampai sepuluh tahun agar Metaverse menjadi arus utama dalam kehidupan.

3. Makna logo 

Logo yang hampir berbentuk kacamata ini aslinya adalah 'infinity loop' yang melambangkan kemungkinan tak terbatas dan alam semesta yang tak berujung.

Warna biru ikonik tetap dipertahankan namun gradasi warnanya lebih dekat ke warna neon.

Dalam logo juga terlihat transisi yang mulus dari warna yang lebih gelap ke warna yang lebih terang di logo.

4. Persistensi 

Metaverse hadir sebagai media sosial yang akan selalu hadir kapanpun kamu ingin mengunjunginya.

Kamu dapat memodifikasi dunia virtual dan perubahannya akan tersimpan saat kamu berkunjung di lain waktu.

Metaverse akan bergantung pada konten yang biasa kamu buat, seperti kreasi digital dan kisah pribadimu, seperti yang dilakukan di media sosial pada umumnya.

5. Prospek kerja 

Dengan permintaan Metaverse yang kemungkinannya akan terus meningkat, berbagai profesi teknologi mungkin mulai menemukan permintaan yang lebih besar seperti programmer, desainer, pengembang, dan bahkan keamanan siber.

Selain itu, Metaverse juga membuka peluang untuk posisi dan profesi baru di masa depan.

6. Metaverse untuk kesehatan 

Menggunakan teknologi augmented realilty di Metaverse, perawatan kesehatan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan bagi seluruh orang di dunia.

Misalnya dalam pemeriksaan mata, dokter dan pasien dapat menggunakan perangkat dan alat dari metaverse untuk memudahkan dalam diagnosis.

Dengan menggunakan teknologi ini, dokter mata dapat mengambil pandangan tiga dimensi dari mata pasien dan juga menggunakan sensor untuk mengumpulkan tanda-tanda vital.

Sungguh menarik info di atas ya, Gaes!

Saya soroti isu kesehatan di nomor 6 saja dulu, ya.

Saya pikir memang masuk akal, jika manfaat teknologi VR di Metaverse bisa seperti itu. Membantu proses pemeriksaan kesehatan, tapi gimana penggunaan akun di Metaverse dalam jangka panjang? Apalagi jika dikaitkan dengan prospek kerja di poin 5, berapa lama jam kerja yang dibutuhkan di era tersebut? Sebutlah 8 jam seperti di masa sekarang. Berarti seseorang minimal harus berada di Metaverse selama 8 jam sehari.

Saya pun mencari data lagi, dan menemukan artikel berikut di alodokter. Berikut sebagian kutipannya: 

Manfaat Pajanan Sinar Matahari untuk Kulit 

Tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin D dengan sendirinya. Terlebih, kandungan vitamin D ternyata cukup terbatas hanya dari jenis-jenis makanan tertentu saja. Solusi mudah dan praktis di dalam mencukupi asupan vitamin D adalah dengan memanfaatkan pajanan sinar matahari di pagi hari.

Kecukupan asupan vitamin D bagi tubuh dapat menghindarkan tubuh dari penyakit rheumatoid arthritis, tuberkulosis, multiple sclerosis, diabetes tipe 1 dan osteomalacia. Kekurangan vitamin D pada anak-anak dapat mengakibatkan penyakit rakitis. Berjemur di bawah sinar matahari pagi juga dipercaya dapat mengurangi risiko infeksi virus Corona, meski hal ini masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.

Selain itu, sinar matahari berperan penting di dalam menjaga dan merawat kesehatan kulit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan paparan sinar matahari dapat mengatasi sejumlah kondisi kulit. Sejumlah dokter pun merekomendasikan radiasi sinar UV untuk menangani kulit berjerawat, eksim, sakit kuning, dan psoriasis. Akan tetapi, terapi radiasi sinar UV ini mungkin tidak dapat untuk semua penderita. Konsultasikan hal ini dengan dokter ahli kulit terkait.

Meski demikian, sebaiknya hindari berjemur pada kisaran pukul 10.00-16.00 karena dapat mengakibatkan kerusakan kulit dan meningkatkan risiko timbulnya kanker kulit. Sebagai perlindungan, gunakan topi, pakaian lengan panjang, celana panjang dan kacamata anti UV yang meminimalkan terpaparnya kulit terhadap sinar matahari. Disarankan juga untuk menggunakan payung atau berlindung di bawah atap ketika matahari sedang terik-teriknya.

Begitulah kata pakar kesehatan. Jadi, tetap saja manusia membutuhkan sinar matahari pagi agar tubuh tetap sehat.

(bersambung...)