3 Saran Untuk Penulis Pemula

"Menulis Dulu atau Membaca Dulu?"

Pertanyaan itu kalo ditujukan buat penulis pemula, bisa saja dijawab: "Hmm... Bingung..."

Thanks to Thought Catalog

Katanya pengen jadi penulis sukses? Ya harus latihan nulis sedini mungkin.

Lalu bahan-bahan buat nulis itu apa? Membaca duluan kan, biar ngerti apa yang mau dituliskan?

Nah, kan... Kalo kayak gitu, bisa jadi bingung. Muter-muter mikirin hal itu, alhasil nggak mulai menulis karena merasa belum cukup referensi bahan bacaan.

Tapi kalo mau bersikap tenang sejenak, mengingat kembali tentang prioritas, nggak perlu bingung lagi.

Ketika seseorang punya prioritas jadi penulis, ya sudah mulailah dengan menulis. Tulis apapun itu.

Jaman dulu kalo mau nulis harus punya buku, tapi sekarang hape di tangan udah bisa jadi buku catatan. Udah nggak ada alasan lagi buat menunda latihan menulis.

Bagaimanapun perlu memahami jika menulis itu adalah proses latihan. Muncul kesalahan itu biasa. Kalo hasil tulisan ada kesalahan, ya coba dibenerin. Kalo udah oke, pertahankan, lalu tingkatkan kualitas tulisan.

Teorinya simpel, kan?

Ya iyalah.. Ngapain dibikin susah?!

Nah, mari kita bahas 3 saran untuk penulis pemula, lebih tepatnya penulis yang lebih pemula daripada saya.

(1) Mulai dari hal kecil!

Isi tulisan bisa dimulai dari pengalaman sehari-hari. Nggak selalu harus idealis bertema besar tertentu, seakan ingin mengubah dunia. Nulis aja hal simpel ibarat mengisi buku diary, hari ini ada kejadian apa, tuliskan di buku diary. Sampai apapun isi pikiran dan perasaan saat kejadian tersebut, bisa turut ditumpahkan ke dalam tulisan.

Kalo di jaman now, pake aplikasi Notes di hape. Catat apapun pengalaman yang muncul. Terutama yang berkesan. Jadi ketika menceritakannya akan diiringi antusiasme tinggi. Semakin cepat menuliskannya, nggak akan kehilangan momen perasaan yang menyertai peristiwanya. Isi tulisan bisa dirasakan pembaca.

Saya ingat salah satu pesan dari seorang guru: "sesuatu yang ditulis dari hati, akan sampai ke hati (pembacanya)."

Bisa juga menggunakan socmed sebagai sarana latihan menulis. Jika diposting, ada feedback dari teman socmed. Umpan balik tersebut bisa untuk menambah referensi tulisan berikutnya, termasuk sebagai koreksi apakah tulisan udah tepat sasaran, apakah isi tulisan udah to the point ataukah masih bertele-tele.

Kalo lebih asik, gunakan blog seperti tulisan saya ini. Saya pun menggunakan blog sebagai wahana berlatih menulis. Sebisa mungkin menulis setiap hari. Lalu sebarkan link tulisan melalui WhatsApp Stories dan Instagram Stories, agar orang-orang mengunjungi blog kamu.

(2) Mulai tuliskan sekarang juga!

Ketika memungkinkan, paksa diri buat menulis situasi terkini. Bisa berbentuk cerita terinci, atau hanya poin-poin saja biar singkat, padat dan jelas. Bagaimana cara menulisnya tergantung selera sang penulis.

Menunda latihan menulis, biayanya mahal banget.

Kalo nggak mulai melatih diri menulis sekarang juga, apakah mungkin setahun ke depan orang tersebut udah terbiasa menulis?

Dalam kondisi seperti itu setahun ke depan, orang tersebut bisa kehilangan potensi penghasilan dari aktifitas menulis, kan?

Tapi beda kalo mulai latihan menulis sekarang.

Semua orang mungkin sudah tahu bahwa seseorang yang terlatih, maka kemampuannya akan meningkat drastis, kan?

Bruce Lee saja takut dengan orang yang melatih 1 jurus sampai ribuan kali, daripada orang yang melatih banyak jurus tapi masing-masing jurus hanya dilatih sekali saja.

Menulis adalah salah satu jurus potensial untuk berpenghasilan hingga masa mendatang. Banyak profesi selain penulis yang idealnya didukung oleh kemampuan menulis, contoh: staf admin jualan yang handel kampanye jualan produk secara online tentunya butuh spesifikasi skill menulis. Jika nggak bisa menulis, mana mungkin ia mampu menyusun kalimat promosi yang menarik calon pembeli, bikin landingpage yang bikin calon pembeli ingin segera bertransaksi.

(3) Mulai menyunting (mengedit) belakangan!

Godaan terbesar seorang penulis adalah segera mengecek hasil tulisannya, yang salah sebelah mana, lalu pengen segera mengoreksi.

Saya pernah memperoleh nasehat dari seorang guru, jika proses menulis diiringi dengan mengedit, maka nggak optimal. Redaksi tepatnya nggak seperti itu, tapi intinya begitu.

Idealnya, tuliskan dulu semua gagasan di kepala. Selesaikan hingga tuntas. Barulah mulai proses editing. Jadi fokus.

Ketika proses menulis dibarengi dengan proses menyunting, maka ide-ide segar di kepala bisa tersendat. Yang tadinya mau muncul, malah kelupaan karena nggak segera ditulis.

Percayalah bahwa kehilangan ide itu rasanya nggemesin!

Begitu ide hilang, biasanya menguap gitu aja. Bener-bener lupa maksimal. Itulah kenapa, proses menulis jangan digabung dengan proses mengedit. Biar nggak menyesal kehilangan ide tulisan.

Jadi... Itulah 3 saran untuk penulis pemula. Mari belajar bersama. Semoga bermanfaat.

Terimakasih telah meluangkan waktu membaca cerita saya hari ini.

Wiradesa, 29 Januari 2022

https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi20lfnow3QxP3Kc-J97UjazD-A6Rmlw2zsWiEtWELV9fxwTi5ziEoaqksJpcNF5osZygSDl-dUUkv0iYgkarvFHqdTTy7n_hFdYLSDtzyXe4H6hhHEoSVRXuF_e6h-o-P7yo8ZoF0KCSLPG0n2mEKgZWL_-weYvfWWDQnUgspQxLuSAuVUz72nZFidrg=s16000
https://shp.ee/bpf6c9h
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhD0Eq7xBQ7tIFbIK7Q_ECgIN6RtBZmrjR9YqggvtcsZ1CoHXwNN9jIsBMKBq03Zya3OntDoqh5E-nEGOnJX7nKl6fpqanGh9_DJV1IqQCUl3UkdtugmLBieSak_Pq-ahg6VdfxcaSCLmJJob8e2ndhYblPOVR0ejd3wIC-6qGxS2rorSdmueB1gpkRzA=s16000
https://shp.ee/m8bycch
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhMHrequR_uiFqHUSPt2thla2lqOVUNoui7mo8a0RoSEJ11oovhPG4cQSxMs2ltpJ5FZcuZg59zkwasw7EWVTL7xyNLsB3KjN5wztNTU4ETP_K9wI9FjqeMfZr4becfFFc7xKjiLuIA9IBihgRbo98bVwbu_T09Lh6OZbG0PSN2aLK2q5ZKwyqPoMJn0Q=s16000
https://shp.ee/6p8qtih
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgjJ6RZa4pWp-Tb7MaMnnsm-M7-RX3ho3v0o2WMDZMWHpsjY8p-KGJwUw8n4Ip2mVIpAsDT6kFhsMd433EisJCycOjTTt0i_AzcctOSV_i5gxi94W-MrUQgLmsdg9sw2rAOlSSWnayIXB63EwI4H1HdExTGwYmtm4H5RgUN5sj1tWniSQQ7Qu6CODx5uw=s16000
https://shp.ee/uap8v7h

Posting Komentar

0 Komentar