Basa-basi yang Beneran Basi!

Bosan nggak sih, kalo tiap kamu ketemu orang terus nyodorin pertanyaan yang serupa terus-menerus?

Misal secara nggak sengaja di suatu waktu kamu ketemu si A di jalan. Rumah kamu sama rumah si A itu tergolong cukup dekat. Terus kamu berniat membuka percakapan dengan si A.

Photo by Gregorio Cavana on Unsplash

Beberapa pertanyaannya seperti ini:

"Nggak pernah keliatan nih, Om?", tanya kamu ke si A.

"Nggak pernah pulang ke rumah ibu, nih, Om?" 

Kalo dilanjut, biasanya muncul laporan begini:

"Rumah Si Om tertutup terus, sih, mau mampir ya nggak jadi..." 

Nah, kalo pertanyaan dan pernyataan semacam itu muncul sekali sih masih wajar, ya. Tapi kalo setiap ketemu terus kamu ngomong kayak gitu terus ke si A, apa ya kamu nggak bosan?

Sewajarnya tentu bosan, kan, ya...

Tapi faktanya, ada orang yang nggak pernah bosan untuk memulai percakapan dengan basa-basi seperti itu. Persis!

Gimana respon saya?

Sudah tentu bete, tapi juga terhibur.

Salut sama si orang yang senantiasa istiqomah dengan kalimat-kalimat pembuka percakapan itu. Saking istiqomahnya, apa mungkin termasuk salah satu ciri orang yang setia?

Kalo belum kebayang gimana kronologinya, coba saya tunjukkan kurang lebih detail kejadiannya.

Alkisah suatu pagi di sebuah jalur rel di pelosok Nusantara, saya sedang menemani anak-anak untuk melihat kereta lewat.

Tiba-tiba datanglah Masbro yang nganterin anaknya berangkat ke sekolah. Lokasi sekolah si anak Masbro bersebelahan dengan jalur rel tempat nongkrong saya dan anak-anak saya.

Usai saling bersalaman dan anak-anak saya salim sama Masbro dan anaknya, si anak Masbro bersegera berjalan kaki menuju ke sekolahnya. Nah, si Masbro memulai percakapan.

"Nggak pernah keliatan nih, Om?", tanya Masbro ke saya.

"Masak, sih? Ya keliatanlah. Kan saya makhluk bernama manusia... Bukan Jin!", jawab saya terkekeh. Geli karena kesekian kalinya saya mendengar pertanyaan ajaib itu.

"Rumah Si Om tertutup terus, sih, mau mampir ketuk pintu ya nggak jadi...", begitu Masbro melapor.

"Kamu datengnya malam, ya tertutup, dong, Mas...", saya nggak mau kalah.

"Nggak malem, wong kemarin-kemarin siang, kok...", Masbro pun tetap bersikukuh.

Lalu saya males nanggepin lagi, lebih fokus ngobrol sama anak-anak saya saja. Ngobrolin tentang kereta yang mau lewat.

Masbro pun langsung pamitan ke saya. Mungkin dia juga males melanjutkan obrolan pagi itu, atau memang mau ngelanjutin aktifitas berikutnya.

Cerita pun berakhir sampe situ.

Kembali lagi saya katakan kalo saya salut sama sosok Masbro. Yang istiqomah dengan kalimat pembuka obrolan dengan saya.

Saya nggak ngerti, gimana cara Masbro memulai percakapan dengan orang lain. Apakah serupa dengan saya, ataukah pembuka tersebut hanya untuk obrolan dengan saya? Entahlah. Saya nggak peduli hal itu.

Dari peristiwa itu saya memperoleh pembelajaran berharga.

Kalo mau memulai obrolan dengan orang, mulailah dengan hal yang menarik dan dinamis. Tema pembukanya biar nggak monoton. Kan bosan kalo gitu-gitu aja, yak. Malahan nggak ada ketertarikan untuk ngobrol mendalam. Buang-buang waktu saja. Makanya saya bikin judul basa-basi yang beneran basi!

Jadi pengen cerita nih, gimana saya dulunya canggung untuk memulai obrolan dengan orang lain. Bahkan dengan orang yang belum saya kenal.

Sejatinya saya itu orangnya pemalu. Cenderung menghindari keramaian. Hingga akhirnya saya belajar untuk menyesuaikan diri, kapan perlu menyendiri dan kapan perlu berinteraksi.

Saya mengamati bagaimana cara orang membuka percakapan. Kebanyakan dari mereka akan membuka obrolan dengan kalimat semacam ini:

👉 "Langitnya cerah ya, Mbak..." 

Situasinya cowok jomblo lagi nungguin bis di halte. Tepat di sebelahnya ada cewek yang diharapkan jomblo juga.

👉 "Wah, warungnya rame nih, Pak..." 

Situasinya anak kantoran lagi istirahat makan siang. Bosan makan di warung biasanya, ia mencari tempat baru.

👉 "Udah lama narik taksi, Pak?" 

Situasinya lagi liburan. Naik taksi mau pulang ke hotel. Punya banyak waktu luang buat ngobrol sama pak supir taksi.

Dulunya saya bingung buat memulai obrolan, tapi begitu belajar, ternyata saya tahu bahwa ada ribuan cara.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Yang penting percaya diri, dan mampu melihat situasi. Munculkan topik yang relevan untuk diobrolkan dengan orang yang kita temui. Kebayang, kan? 

Bangun kesamaan di awal, biar obrolan menarik untuk diikuti. Orang yang terlibat obrolan bisa antusias dengan pembahasan yang ada.

Kalo pembuka obrolan udah enak, biasanya bakal mengalir gitu aja.

Sekalipun masih malu-malu, praktekin aja dulu. Bangun keberanian dari diri sendiri. Bertahap aja, nggak perlu terburu-buru.

Jadi... Terimakasih udah membaca cerita saya hari ini.

Wiradesa, 27 Januari 2022

https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi20lfnow3QxP3Kc-J97UjazD-A6Rmlw2zsWiEtWELV9fxwTi5ziEoaqksJpcNF5osZygSDl-dUUkv0iYgkarvFHqdTTy7n_hFdYLSDtzyXe4H6hhHEoSVRXuF_e6h-o-P7yo8ZoF0KCSLPG0n2mEKgZWL_-weYvfWWDQnUgspQxLuSAuVUz72nZFidrg=s16000
https://shp.ee/bpf6c9h
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhD0Eq7xBQ7tIFbIK7Q_ECgIN6RtBZmrjR9YqggvtcsZ1CoHXwNN9jIsBMKBq03Zya3OntDoqh5E-nEGOnJX7nKl6fpqanGh9_DJV1IqQCUl3UkdtugmLBieSak_Pq-ahg6VdfxcaSCLmJJob8e2ndhYblPOVR0ejd3wIC-6qGxS2rorSdmueB1gpkRzA=s16000
https://shp.ee/m8bycch
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhMHrequR_uiFqHUSPt2thla2lqOVUNoui7mo8a0RoSEJ11oovhPG4cQSxMs2ltpJ5FZcuZg59zkwasw7EWVTL7xyNLsB3KjN5wztNTU4ETP_K9wI9FjqeMfZr4becfFFc7xKjiLuIA9IBihgRbo98bVwbu_T09Lh6OZbG0PSN2aLK2q5ZKwyqPoMJn0Q=s16000
https://shp.ee/6p8qtih
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgjJ6RZa4pWp-Tb7MaMnnsm-M7-RX3ho3v0o2WMDZMWHpsjY8p-KGJwUw8n4Ip2mVIpAsDT6kFhsMd433EisJCycOjTTt0i_AzcctOSV_i5gxi94W-MrUQgLmsdg9sw2rAOlSSWnayIXB63EwI4H1HdExTGwYmtm4H5RgUN5sj1tWniSQQ7Qu6CODx5uw=s16000
https://shp.ee/uap8v7h

Posting Komentar

0 Komentar