Sebagian orang kalo ketemu masalah, cenderung berfokus ke masalahnya. Mengeluh begini-begitu tentang kenapa ia yang harus mengalami problem tersebut. Berasa menjadi orang paling menderita sedunia.

Photo by Ron Lach from Pexels

Namun, di sisi lain ada sebagian kecil orang yang ketika ketemu masalah, malah cenderung berfokus ke poin mencari solusi terbaik dari masalahnya. Orang tipe ini menolak untuk terbawa perasaan atas masalah yang sedang ia hadapi. Justru ia memacu pikirannya untuk keluar dari jeratan masalah itu. Ia nggak mau 'mati konyol' dalam medan perang tersebut.

Dalam teori Psikologi, ada istilah FLIGHT or FIGHT. Maknanya, ketika seseorang menghadapi peristiwa yang membahayakan dirinya, maka orang tersebut memiliki 2 opsi: KABUR atau HADAPI!

Pilihan KABUR adalah hal paling gampang dilakukan. Nggak selalu KABUR itu hal yang buruk. Walaupun pada kenyataannya 'gampang dilakukan' itu tidak segampang kita ngomongnya. Tentu ada strategi kabur yang ciamik agar berhasil dilakukan.

Bayangin aja, pas kamu jalan kaki melewati sebuah kebun, tiba-tiba kamu dikepung oleh sekawanan tawon  marah yang bersiap menyerangmu. Nggak mungkin kamu memilih opsi HADAPI, kan? Justru kalo nekad melawan, kamu bisa tersengat sekawanan tawon marah tersebut. Kalah konyol. Jadilah, keputusan KABUR adalah solusi terbaik untuk kasus itu. Namun, KABUR yang presisi yang diperlukan. Bukan asal kabur.

Kalo kabur sembarangan, yang ada cuma lari tergopoh-gopoh tanpa mengecek apapun yang ada di depanmu dan sampingmu. Siapa tahu kamu bisa menyelamatkan diri dengan tahu bahwa di samping kirimu ada rumah misalnya. Kamu bisa minta tolong ke empunya rumah, lalu ia bukain pintu untuk menyelamatkanmu dari serbuan tawon. Mungkin terjadi, kan?!

Atau hal lain, mungkin kamu tahu kalo di sebelah kananmu ada sungai. Jadi, kamu bisa nyemplung ke sungai itu untuk bersembunyi sementara.

Tapi kembali lagi, kalo strategi KABUR-nya nggak presisi, bisa-bisa kamu malah tenggelam. Kamu panik maksimal, lalu lari nyemplung sungai ternyata baru ingat nggak bisa berenang.

Jadi, sebelum menyusun strategi KABUR pun, ternyata kita butuh yang namanya KETENANGAN. Betul, ketenangan. Dalam tenangnya diri, kita bisa berpikir secara jernih untuk mencari solusi tercepat saat tawon menyerang.

Setelah KETENANGAN, untuk mengatur strategi KABUR yang ciamik, ternyata kita butuh DATABASE VARIASI SOLUSI. Kalo kita nggak punya pengetahuan apapun tentang bagaimana cara kabur dari serangan tawon, bisa jadi kita stuck di tempat. Nggak ngerti mesti ngapain. Pasrah diem aja.

Setidaknya kita pernah mendengar cerita dari keluarga atau kawan kita tentang kejadian orang diserang tawon. Atau kita pernah nonton tayangan di TV / smartphone terkait cara bertahan diri dari serbuan hewan. Hal itu jadi salah satu variasi solusi yang bisa kita coba.

Mode KABUR memang cenderung gampang-able untuk dipilih sebagian orang. Makanya ada sebagian orang yang memilih LARI DARI KENYATAAN daripada menghadapi kenyataan hidupnya. Untuk sebagian masalah, mode KABUR memang menjadi solusi terbaik, tapi tidak untuk semua masalah. Ada yang KABUR tapi membawa perasaan bersalah hingga masa tua. Tidak bertanggungjawab atas kesalahan yang pernah dibuat sewaktu muda.

Kembali ke istilah FLIGHT or FIGHT lagi. Setelah FLIGHT alias KABUR, maka opsi kedua adalah FIGHT atau HADAPI!

Seperti halnya opsi KABUR, nggak semua masalah cocok diselesaiin dengan mode HADAPI. Sebenarnya disesuaikan saja, sebuah masalah idealnya cocok diselesaikan dengan KABUR atau HADAPI.

Katakanlah kamu berada pada situasi ini. Kamu dalam perjalanan pulang dari kantor sekitar pukul 8 malam. Melewati jalanan kecil menggunakan sepeda motor. Tiba-tiba ada 2 orang berboncengan menyalip kendaraanmu, lalu mengerem mendadak tepat di depan motormu. Mereka ternyata begal! Apa yang akan kamu lakukan?

Kalo kamu nggak punya kemampuan bela diri, tentu kamu cenderung akan kabur. Mungkin ninggalin motormu dan lari ke manapun yang kamu bisa asalkan kamu pikir akan selamat.

Beda cerita jika kamu udah bersabuk hitam. Jago bela diri. Kemungkinan besar kamu akan melawan 2 orang begal.

Tapi gimana kalo begal tersebut memiliki pistol? Kalo kamu mutusin untuk menghadapi mereka, tentu kamu lebih berhati-hati, kan? Yang penting kamu tetap akan melawan karena kemampuan bela dirimu. Kamu sudah memiliki bekal skill bela diri, masak mau lari?!

Karena kamu memiliki sabuk hitam, tentunya kamu sudah berkali-kali bertarung dengan orang lain. Salah satu modal DATABASE VARIASI SOLUSI sudah kamu kantongi. Hal lain terkait bagaimana mengatasi orang bersenjata pistol, mungkin pernah kamu saksikan di film. Bisa kamu tiruin. Apalagi kalo kamu atlit tembak, bisa jadi kamu ngerti tentang jenis senjata, dan tahu kalo pistol yang dipake si begal ternyata palsu. Kamu akan ngerti lebih presisi lagi tentang bagaimana cara melawan orang-orang itu.

Contoh masalah kedua memang agak radikal, ya.. Hehehe...

Biar lebih nampol aja contohnya.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, ya...

Wiradesa, 5 Januari 2022