Dalam mencapai target tertentu, seseorang bisa dengan nggak sadar akan mengucapkan semacam ini: "Apalagi, ya... Hmm... Oh iya, tinggal posting aja di socmed..."

Photo by Mark McGregor on Unsplash

Ternyata penggunaan kata 'tinggal' itu hipnotik sekali di alam bawah sadar. Jadi, dengan memilih kata 'tinggal', seseorang merasa puncak kerjaan yang lagi ia garap hampir selesai, nyisain 1 langkah pamungkas yang terasa gampang untuk dilakuin. Jatuhnya semacam menyepelekan langkah terakhir tersebut.

Padahal, kalo diinget kalo kita pake kata 'tinggal', gimana hasilnya? Apakah beneran sesuai target yang udah kita susun? Apakah segampang itu melakukan bagian pamungkasnya? Apakah tiba-tiba ada gangguan dadakan yang menghancurkan bayangan 'tinggal kerjain begini doang...'?

 

Kalo Bang Pandji mengutarakan opininya bahwa meskipun langkah pamungkas yang dirasa gampang dilakuin, tapi faktanya tetap butuh effort (besar) untuk melakukannya. Makanya, Bang Pandji menyukai kata 'masih harus' karena paham masih ada effort.

Menggunakan kata 'masih harus' merangsang indera kita untuk terus waspada. Perjuangan belum usai, masih ada yang harus dilakukan yaitu ini dan itu.

Saya merasa cocok dengan opini Bang Pandji tersebut. Daripada membuat diri ini terlena karena merasa udah tinggal ngelakuin langkah terakhir, tapi ternyata malah kepentok berbagai masalah yang tiba-tiba hadir di luar prediksi, mendingan mengasah diri agar terus waspada tingkat tinggi hingga tugas tertunai sempurna.

Wiradesa, 8 Januari 2022