Thanks to Toa Heftiba (unsplash.com)

Oke, jadi ketika sinyal internet lagi susah konek, maka di situlah saya memacu jemari untuk menumpahkan isi kepala.

Hampir apapun yang terlintas pertama kali di kepalaku, maka jari jempol ini harus langsung mengetikkannya di papan virtual ini. Bahkan tulisan ini pun saya keluarkan begitu saja dari isi kepalaku. Tanpa banyak mikir, udah, tulisin aja. Entengin isi kepala.

Memang kesal rasanya, ketika mengetik seperti ini pun terkadang masih typo. Salah huruf yang saya pencet, atau kurang huruf. Tapi emang biasanya salah ketik huruf sih. Kalau pun kurang huruf, biasanya karena saya harus memencet huruf di sekitar tombol hapus (di kanan bawah). Dengan jempol yang lumayan besar ini, ya jika dibandingkan dengan jempol cewek pada umumnya, hampir pasti kalo saya mencet di area tersebut ya bakalan kepencet hapus juga.

Alhasil, tulisan yang seharusnya lengkap, ya menjadi nggak lengkap. Semacam kurang huruf.

Begitu juga kalo saya mencet di area kiri, yang berdekatan dengan tombol Capslock. Ya sama aja nasibnya. Terkadang tulisan yang sudah saya rangkai di kepala, lalu menjadi buyar karena tiba-tiba muncul huruf KAPITAL di papan virtual.

Seharusnya hal simpel begini jadi hal rutin aja, ya...

Buat menumpahkan apapun isi kepala. Meringankan isi kepala gitu.

Sekaligus melatih lagi kemampuan menulis. Udah lama banget jarang nulis. Hingga saya yakin kalo kualitas menulis udah menurun drastis.

Dua minggu terakhir ini saya sebenarnya kepikiran untuk menghidupkan aktifitas menulis lagi. Melalui blog. Nggak ada tempat lain. Nggak usah mikirin cara lain, karena saya udah punya wadahnya bernama blog ini.

Yap! Saya sejatinya kangen ngeblog. Pengennya ngisi konten blog bukan sebagai saya yang sebenarnya, cuma sebagai pembawa pesan gitu, sebagai anonim. Saya nggak mau banyak orang tahu siapa pemilik blog yang lagi saya kelola. Tapi saya nggak bisa bohong bahwa inilah saya. Nggak bisa jadi anonim.

Kalo dipikir-pikir, bekerja sebagai anonim begitu menenangkan. Karena kalopun terkenal, ya karena karya yang saya bikin. Bukan sayanya yang dikenal orang.

Jika terkenal pun, orang lain nggak perlu tahu siapa sebenarnya penulis blog ini. Dan saya bisa tetap jalan-jalan kemanapun tanpa perlu khawatir diajak foto bareng, dimintai tanda tangan, dan semacamnya berasa selebriti gitu. Narsis banget! Wkwkwk.

Imajinasiku terlalu tinggi. Tapi ya nggak papa. Namanya juga berkhayal ya, kan... Siapa tahu kelak tulisan-tulisan anonimku bakalan viral dan bermanfaat buat banyak orang. Aaamiin.

"Semua masih mungkin terjadi, selama kita hidup."

Udah, prinsip itu aja yang perlu saya pegang untuk saat ini.

Lakukan aja, Bro!

---

Pekalongan, 18 November 2021

Di rumah Gumawang

22:53 WIB