Judul tersebut adalah salah satu video Bang Pandji. Sumbernya di sini:

Dari sudut pandang anak muda, biasanya akan menyalahkan orangtua. Anak muda menganggap kalo orangtua nggak mendukung cita-cita mereka. Padahal faktanya nggak seperti itu.

Di mata orangtua, anak akan terus menjadi anak yang butuh dibimbing. Meskipun anak tersebut udah kumisan, udah punya anak juga, tapi tetaplah ia menjadi anak menurut orangtuanya.

Orangtua selalu ingin menjadi pembimbing dan pelindung anak-anaknya. Termasuk melindungi sang anak dari berbagai efek negatif dunia.

Thanks to Jp Valery (unsplash.com)

Misalnya orangtua yang berprofesi sebagai ASN menginginkan anaknya menjadi ASN juga. Ketika si anak ingin mengambil profesi jadi wirausahawan, orangtua tidak mengizinkan.

Kenapa orangtua ASN ingin anaknya menjadi ASN juga? Karena dengan menjadi ASN, dapet gaji tetap bulanan, bahkan dapet pensiunan. Dari sisi ekonomi, bisa diandalkan jika menjadi ASN. Begitu opini orangtua ASN.

Tidak semua orangtua ASN menginginkan anaknya menjadi ASN juga. Tapi memang faktanya ada kasus seperti itu.

Di sisi lain ada juga orangtua ASN yang membebaskan anaknya untuk memilih masa depan secara bertanggungjawab.

Ditarik ke belakang dari contoh ASN tadi, secara umum orangtua butuh pembuktian dari si anak. Orangtua menyaksikan sendiri sejak si anak lahir, belajar, bertumbuh menjadi dewasa dengan segala pengalamannya, jadi orangtua begitu khawatir kalo si anak merasakan luka / duka.

Orangtua menginginkan kebahagiaan buat si anak. Orangtua nggak tega kalo si anak menderita di hidupnya. Kira-kira begitu sudut pandang kebanyakan orangtua.

Itu yang saya alami. Ketika selulus kuliah dan terjun ke dunia kerja. Yang saya tahu adalah mendaftar pekerjaan. Kerja ikut orang. Sembari saya mengonsumsi berbagai info bahwa ada alternatif pekerjaan selain ikut orang, yaitu buka usaha sendiri.

Di awal berkarir di dunia kerja, saya beberapa kali mengutarakan keinginan saya ke orangtua untuk resign dan buka usaha sendiri, tapi ditolak. Ya iyalah wajar ditolak, wong saya belum membuktikan apapun bahwa saya beneran bisa jalanin usaha.

Selama berkuliah saya hanya belajar doang, belum pernah cobain buka usaha, belum punya pengalaman sama sekali. Pengalaman satu-satunya adalah hasil dari mengikuti seminar dan baca buku tentang dunia wirausaha. Tentu saja, hal itu nggak bisa dijadikan pembuktian ke orangtua.

Ketika saya ngantor di tempat orang, kalo sepulang kerja hingga malam, suka saya gunain waktu buat belajar tentang wirausaha. Ngulik di internet, belajar affiliate marketing, internet marketing, copywriting dan kawan-kawannya.

Saya mulai jualan buku secara online. Gabung pasukan reseller buku gitu. Di jaman Blackberry masih booming. Alhamdulillah hasilnya lumayan. Dapet beberapa juta dari hasil jualan buku secara online.

Waktu berlanjut, hingga saya menikah. Lalu bareng istri membangun usaha Mukena Larizka. Ngelanjutin usaha yang udah dirintis ibu mertua. Saya dan istri yang meng-online-kannya sejak November 2015. Alhamdulillah satu pembuktian ke pembuktian lain saya kasih tunjuk ke orangtua saya.

Saya suka ceritain tentang proses yang lagi saya jalani ke orangtua. Sekaligus mengharapkan doa restu dari orangtua.

Kesekian kalinya saya minta izin untuk resign dan fokus membangun usaha ke orangtua, alhamdulillah diizinkan. Bersyukur banget akhirnya dapet ACC. Bahkan membahas redaksional surat resign sama Abah waktu itu.

Memang bener kata Bang Pandji, bahwa orangtua butuh pembuktian si anak. Orangtua ingin tahu sejauh mana si anak beneran menginginkan impiannya, sekuat apa si anak bertanggungjawab terhadap impiannya, bagaimana si anak menghadapi masalah yang muncul di hadapannya dalam menggapai impiannya. Mungkin ada pemikiran lain dari sisi orangtua hingga akhirnya orangtua mengizinkan si anak menempuh impiannya.

Setelah resign, saya lebih fleksibel mengatur waktu. Ketika keluarga butuh bantuan, saya bisa hadir. Tanpa perlu minta izin libur / cuti dari kantor.

Hingga akhirnya di Bulan September 2018, ketika Abah jatuh sakit dan harus opname di rumah sakit. Masuk ICU. Alhamdulillah bareng ibu, nenek, dan adik-adik, saya bisa sering dampingin Abah. Nggak kebayang kalo saat itu saya masih ngantor ikut orang, tentu kepikiran pas kerja, mau ngajuin izin lagi dan lagi juga nggak enak.

Mendampingi hari-hari terakhir Abah adalah anugerah Tuhan yang saya syukuri banget. Buat saya, keluarga adalah prioritas.

Kesimpulan saya, tidak ada orangtua yang membunuh mimpi anak-anaknya. Yang ada, orangtua berusaha menjaga anak-anaknya tetap bahagia dengan hidupnya. Kalo si anak punya mimpi yang berbeda dengan harapan orangtua, maka buktikan bahwa si anak memang layak mendapat restu orangtua untuk mewujudkan mimpinya.

Terimakasih telah membaca cerita saya hari ini.

Wiradesa, 13 Januari 2022