SOROT MATA MEREKA SEAKAN INGIN MENERKAMKU... (Based on True Story)

Urusan ngomong di depan audiens bagi saya seperti hal yang mengerikan. Bahkan lebih horor daripada film-film horor. Film Insidious pun seakan nggak ada apa-apanya dibanding situasi public speaking. Asli tegang. Asli panik.

Thanks to Kane Reinholdtsen (unsplash.com)

Sedikit flashback sekitar 14 tahun lalu, ketika saya sedang berkuliah di sebuah kampus swasta islami Semarang. Sebut saja Unissula. Iya, nama kampus yang sebenarnya.

Waktu itu, kegiatan saya di awal masa perkuliahan hanya kuliah-pulang kuliah-pulang. Nggak ada kegiatan lain. Nggak gaul seperti teman-teman yang suka nongkrong di kafe atau mall. Teman main saya juga bisa dihitung jari. Tepatnya, jari tangan.

Soal kuliah, saya nggak pinter-pinter amat. Standar remaja pada umumnya. Prestasi saya pun tergolong biasa aja. Nggak seperti Mawar (nama samaran) yang seperti mesin fotokopi. Apa yang ia baca, bisa ia tuliskan sama persis di lembar ujiannya.

Saya juga nggak seperti Kumbang (juga nama samaran). Ia jago melucu dengan logat jawanya yang kental. Hampir selalu bikin teman-temannya hepi.

Saya pun jauh dari prestasi seperti Walang (tetap dengan nama disamarkan). Ia termasuk sosok pemimpin yang begitu disegani teman-teman seangkatan, juga dilirik cewek-cewek. Ia juga jago ngomong di depan kelas ketika mempresentasikan tugas dari bapak-ibu dosen.

Jadi, Mawar, Kumbang dan Walang memang nama samaran. Namun sosok mereka benar-benar ada di lingkaran pertemanan saya. Di mata saya, mereka hebat. Saya kalah, jauh. Saya seperti remahan roti yang tercecer di lantai, siap diserbu semut-semut kelaparan. Saya nggak kebayang bisa menjadi sosok seperti mereka bertiga.

Cerita berlanjut manakala datang episode mahasiswa yang diharuskan mengikuti kegiatan organisasi kampus. Ujungnya berorientasi nilai bagus karena aktif berorganisasi. Sebagian mahasiswa mungkin mikir, setidaknya ia punya nilai lebih di hadapan dosen. Bermula dari situasi itu, saya mendaftar sebuah organisasi fakultas yang bergerak di bidang keagamaan. Sebutlah Rohis. Kerohanian Islam.

Setahun berjalan, saya hanya menjadi penumpang yang duduk manis sepanjang perjalanan organisasi tersebut. Cuma memasang nama lengkap di struktur organisasi sebagai anggota. Jeleknya, sebagai anggota pun hanya beberapa kali mengikuti kegiatan organisasi tersebut.

Tibalah agenda Mubes (Musyawarah Besar) untuk memilih ketua umum baru. Sebelumnya saya males-malesan mengikuti acara yang digelar, eh, waktu itu saya begitu semangat untuk hadir memberikan suara. Setidaknya saya berharap suara silent member seperti saya masih didengar.

Acara berlangsung khidmat dari awal hingga masa pemilihan ketua umum tiba. Saya merasakan ketegangan luar biasa. Nggak disangka, nama saya masuk dalam jajaran calon ketua umum yang disodorkan dari hasil musyawarah forum.

Tiba saatnya saya diharuskan berkampanye sebagai calon ketua umum. Saya bingung harus ngomong apa. Rasanya mereka yang menonton seakan ingin menerkam saya.

Detik demi detik begitu lama saya rasakan. Nggak banyak kalimat yang keluar dari lisan saya. Bahkan sepertinya saya malah meminta forum biar nggak memilih saya. Iya, cemen banget, kan...

PARAH! Asli parah banget siang itu. Saya tegang ketika harus ngomong di depan audiens. Itu pun hanya sekitar 20 orang audiens yang saya kenal, tapi berasa banyak banget dan mengintimidasi. Nggak ada persiapan apapun ketika ditunjuk menjadi calon ketua umum organisasi tersebut.

Saya pengen pulang. Saya nggak betah!

Waktu itu, saya belum memahami betapa pentingnya kemampuan public speaking. Yang ada, saya malah asik menulis, menulis dan menulis. Bikin karya dalam bentuk tulisan. Mulai dari rajin bikin cerita di akun Friendster sampai mengisi blog gratisan sebelum saya bikin blog di muhnurulhakim.com.

Waktu terasa lama berlalu. Siang itu saya sangat dag-dig-dug. Nggak berolahraga tapi keringat mengalir cukup deras. Nggak berolahraga tapi jantung ini begitu kencang berdetak.

Lalu, JEGERRRR!!!

Forum musyawarah memilih saya menjadi ketua umum organisasi tersebut untuk setahun ke depan. Resmi!

Lemes seketika.

Saya nggak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Seorang anggota organisasi yang pasif setahun kemarin, tiba-tiba dapat kejutan untuk memimpin organisasi tersebut setahun ke depan. APPPAH??!!!

Yes. Begitulah salah satu episode dinamis yang saya alami. Begitu menegangkan. Sangat menantang.

Selepas pemilihan ketua umum tersebut, saya kehilangan semangat. Bingung harus ngapain. Nggak ngerti cara memimpin orang-orang. Nggak ngerti cara mimpin rapat. Bahkan nggak ngerti cara public speaking. Saya begitu banyak minusnya dibandingkan teman-teman.

Tiga bulan berlalu sejak pemilihan, dan saya masih bingung dengan apa yang terjadi. Itulah definisi kena mental waktu itu, saya dihadapkan dengan 2 amanah penting. Antara menyelesaikan skripsi atau menyelesaikan amanah memimpin organisasi. Keduanya bukan pilihan yang enak. Yang mana yang didahulukan memiliki konsekuensi, dan keduanya harus dituntaskan. Balapan dengan waktu.

Organisasilah yang saya pilih sebagai prioritas waktu itu. Sekitar 80% saya fokus untuk menyelesaikan program setahun memimpin organisasi. Benar-benar belajar banyak hal tentang leadership, manajemen organisasi, event organizer dan hal-hal lain.

Bersyukur banget teman-teman seorganisasi begitu mendukung saya. Saya ingat ketika pertama kalinya saya ngumpulin semua anggota organisasi untuk rapat, mereka sangat antusias untuk hadir dan mensupport. Iya, mereka membantu saya untuk memimpin mereka. Menjadi nahkoda bagi kapal yang sedang berlayar.

Dari kehidupan berorganisasi di era mahasiswa, saya belajar hal-hal menegangkan yang biasanya dihindari mahasiswa. Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan untuk belajar banyak hal di zona tak nyaman saya waktu itu.

Mengisi Materi Pelatihan Marketing Kospin Jasa (Feb 2015)

Mata-mata yang seakan mau menerkam saya, kini sudah lenyap. Setidaknya sudah minimal banget, tergantung kepada siapa audiens yang hadir.

Kemampuan public speaking bukan sebuah pemberian orang, tapi sebuah perjuangan.

Skill memimpin sebuah organisasi bukan dihasilkan dari seorang pemimpin semata, tapi ada dukungan luar biasa dari orang-orang yang ia pimpin. Entah dukungan berbentuk saran ataupun kritikan.

Semoga ada hal bermanfaat yang kamu dapatkan dari cerita singkat ini.

Terimakasih udah membaca cerita saya hari ini.

Pekalongan, 20 Januari 2018

Jam 20:24 WIB

Diedit pada 26 Januari 2022 

https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi20lfnow3QxP3Kc-J97UjazD-A6Rmlw2zsWiEtWELV9fxwTi5ziEoaqksJpcNF5osZygSDl-dUUkv0iYgkarvFHqdTTy7n_hFdYLSDtzyXe4H6hhHEoSVRXuF_e6h-o-P7yo8ZoF0KCSLPG0n2mEKgZWL_-weYvfWWDQnUgspQxLuSAuVUz72nZFidrg=s16000
https://shp.ee/bpf6c9h
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhD0Eq7xBQ7tIFbIK7Q_ECgIN6RtBZmrjR9YqggvtcsZ1CoHXwNN9jIsBMKBq03Zya3OntDoqh5E-nEGOnJX7nKl6fpqanGh9_DJV1IqQCUl3UkdtugmLBieSak_Pq-ahg6VdfxcaSCLmJJob8e2ndhYblPOVR0ejd3wIC-6qGxS2rorSdmueB1gpkRzA=s16000
https://shp.ee/m8bycch
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhMHrequR_uiFqHUSPt2thla2lqOVUNoui7mo8a0RoSEJ11oovhPG4cQSxMs2ltpJ5FZcuZg59zkwasw7EWVTL7xyNLsB3KjN5wztNTU4ETP_K9wI9FjqeMfZr4becfFFc7xKjiLuIA9IBihgRbo98bVwbu_T09Lh6OZbG0PSN2aLK2q5ZKwyqPoMJn0Q=s16000
https://shp.ee/6p8qtih
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgjJ6RZa4pWp-Tb7MaMnnsm-M7-RX3ho3v0o2WMDZMWHpsjY8p-KGJwUw8n4Ip2mVIpAsDT6kFhsMd433EisJCycOjTTt0i_AzcctOSV_i5gxi94W-MrUQgLmsdg9sw2rAOlSSWnayIXB63EwI4H1HdExTGwYmtm4H5RgUN5sj1tWniSQQ7Qu6CODx5uw=s16000
https://shp.ee/uap8v7h

Posting Komentar

0 Komentar